Daily of Mind : Hey Pendaki Belajarlah Dari Everest

Posted on Updated on

Everest-1

Everest film yang saya tonton bersama istri 1 bulan yang lalu mengajarkan kita sebuah perjuangan mencintai alam dengan menaklukkan gunung tertinggi di bumi ini, dan ini adalah catatan buat mereka para pecinta alam khususnya para pendaki gunung. Jadilah pendaki gunung yang bijak, lalu apa hubungannya dengan film Everest ?

Everest diambil dari kisah nyata yang mengisahkan tentang dua kelompok ekspedisi di tahun 1996 yaitu Rob Hall (Adventures Consultant) dan Scott Fischer (Mountain Madness) untuk menaklukkan gunung tertinggi di dunia ini. kedua kelompok ekspedisi ini mengantarkan beberapa client, Hingga kontingen negara seperti Taiwan dan Afrika Selatan, semuanya berlomba untuk menggapai puncak tertinggi di dunia.untuk mencapai puncak dengan kondisi alam yang kurang bersahabat. yaitu badai salju yang berada di puncak everest.( ini nih yang namanya mendaki gunung buat bisnis)

Everest-2

Melihat film ini jadi ingat pengalaman pertama saya naik gunung di awal tahun 2000an bersama tiga teman saya dan sampai puncak jam 10 malam lalu mendirikan tenda sambil menggigil kedinginan. Bayangkan saja cuma ber empat naik lawu malam-malam dan pada saat itu tidak bebarengan dengan event atau acara apapun seperti perayaan kemerdekaan dan lain sebagainya, waktu itu Ego yang mangalahkan kita untuk mencapai hingga puncak lawu yang sekarang kabarnya sedang terbakar. Begitu pula dengan film Everest, para pendaki ingin sekali menggapai puncak dengan berbagai tujuannya, mereka membayar mahal para pengantar perjalanan menuju puncak seperti yang di pimpin oleh Rob Hall dan Scott Fischer. mulai dari memenuhi 7 puncak tertinggi di dunia, mencari kedamaian, hiburan hingga asal keinginan dan ego mereka terpenuhi.

Film ini kelihatan epic dan objektif dengan kejadian-kejadian yang bisa diambil pelajaran dalam tragedi pendakian 1996 tersebut.Tahun 1996 adalah tahun yang kelam bagi sejarah pendakian Everest, pendakian yang harus menerima resiko kematian di puncak tertinggi dunia

Film Everest merupakan gambaran dari sedikit komersialisasi gunung yang sangat diminati oleh para pendaki. pada film ii di gambarkan dari Everest Basecamp, munculnya konflik dan ego masing-masing pendaki hingga barujung kematian. Ya, dari apa yang Toli, panggilan Anatoli di film tersebut memang benar adanya. Manusia tak bisa menang dari gunung, memang gunung bisa ditaklukkan sampai puncak, namun demikian dalam segala hal, manusia harus berkorban banyak hal untuk mencapai puncak (Efnr)

Banyak adegan yang penuh membuat emosi para penontonnya walau dalam hati saja termasuk saya, film ini telah menunjukan dan memberikan gambaran sifat manusia sebenarnya ketika di gunung.kayak anak sekarang hobbynya naik gunung, selfie di puncak, ingin menggapai jati diri, merasa bisa menaklukkan tapi mereka juga lupa akan alam dan keagungan Tuhan.Bahkan pada suatu adegan ada kata kata seperti ini :

Kamu membayarku, untuk membawamu turun dengan selamat ke bawah – Kata Rob Hall kepada Beck Weathers

Inilah Ego manusia ketika digunung, apalagi Everest yang di komersialkan menjadikan pada konsultan pendaki menjadi pendaki professional tanpa mengingat keselamatan akan clientnya. Film ini juga mengajari kita bagaimana mencintai alam, adegan Rob Hall mengambil sampah yang dibuang begitu saja oleh para pendaki, nah yang suka buang sampah sembarangan di gunung itu salah besar mungkin ini penyebabnya alam muraka seperti sekarang. Film ini sangat menarik untuk di tonton, film yang memberikan banyak sekali pengetahuan tentang naik gunung, teknik pendakian, teknik bertahan hidup, kesiapan pendakian dan sebagainya.

Everest-3

Meskipun akhir kisah dari film ini cukup tragis, mereka sang para konsultan pendakian pada akhirnya meninggal dunia karena terkena badai salju dengan suhu yang cukup ekstrim dan pada akhirnya mereka beku menjadi satu bersama salju, sampai saat ini menurut ceritanya mayat-mayat para pendaki tersebut dibiarkan saja di everest dan menyatu dengan alam. dan kalau menurut saya jika dibanding dengan film indonesia 5cm sih jauh beda,  tapi saya yakin film ini pasti lebih mengajak para penontonnya untuk lebih mengendalikan ego dan mempersiapkan diri  ketika berpetualang, mencintai alam atau bahkan menghadapi kematian.

Iklan

40 thoughts on “Daily of Mind : Hey Pendaki Belajarlah Dari Everest

    eijeisan said:
    22 November 2015 pukul 8:35 PM

    Danang apel computer?
    Nice blog

      mysukmana responded:
      23 November 2015 pukul 8:30 AM

      halo mas eijeisan..piye kabare

    Chocky Sihombing said:
    4 November 2015 pukul 7:38 PM

    Duh, belum sempet nonton film ini! 😦 padahal sepertinya seru ya, banyak jg yg ngomongin film ini. yang jelas sih namanya naik gunung itu pasti perlu persiapan matang. bisa banyak belajar dari film ini ya mas, tp jgn dicontoh film 5cm, minim persiapan modal nekat, hahaha…

      mysukmana responded:
      4 November 2015 pukul 7:48 PM

      Wah jauh bgt lah klo sm 5 cm

    ghozaliq said:
    3 November 2015 pukul 8:40 AM

    pas saya nonton ini sengaja di kursi paling atas,,,, biar makin bersa mdpl-nya ::D

      mysukmana responded:
      3 November 2015 pukul 8:42 AM

      Wakaka ngaruh ya itu pdhl cm selisih bbrp meter

        ghozaliq said:
        3 November 2015 pukul 8:53 AM

        totalitas…nontonya aja pakai jaket…jaga-jaga biar gak hipotermia..

          mysukmana responded:
          3 November 2015 pukul 8:55 AM

          Sekalian bawa ransel mas wkwkw

            ghozaliq said:
            3 November 2015 pukul 8:58 AM

            berasa diendors mas nanti nontonya 😀

    bersapedahan said:
    2 November 2015 pukul 3:54 PM

    saya sekeluarga lihat film ini … kerenn
    memang gila ya perjuangan untuk ke puncak everest ini …. bener2 mesti siap mati …

      mysukmana responded:
      2 November 2015 pukul 3:55 PM

      Iya..nyali saya saja takut klo beneran sy yg melakukannya..

    winnymarch said:
    30 Oktober 2015 pukul 12:37 PM

    bener bgt sih kak ada pesan moralnya aku takut naik gunung kak

      mysukmana responded:
      30 Oktober 2015 pukul 12:41 PM

      Klo takut naik gunung turun gunung aja kak xixixix ;D

    febridwicahya said:
    30 Oktober 2015 pukul 10:27 AM

    Aku belum nonton nih ._. kata temenku emang tragis gitu sih :’

      mysukmana responded:
      3 November 2015 pukul 5:59 AM

      iya mas tragis akhirnya, pada meninggal

    Febriyan Lukito said:
    29 Oktober 2015 pukul 10:21 PM

    Hmm. Berarti komen saya smlm gak masuk yak. Hiksss seharusnya jadi yang pertamax tuh. Hahahaha.
    Dan sekarang lupa smlm komen apa.

      mysukmana responded:
      29 Oktober 2015 pukul 10:25 PM

      Gak ada tuh kak lukito..error kali…

        Febriyan Lukito said:
        29 Oktober 2015 pukul 10:27 PM

        Hiksss. Eh skrg dipanggil kak. Artinya dah diakui kalau lbh muda daripada sebelumnya. Hehhee.
        O iya. Baru inget.
        5 cm jauh banget dibanding film ini. Padahal baca bukunya itu berasa banget rasanya itu naik gunungnya.
        Soal ego, everyone has their own ego mas. How they conquer it – that is the real question in life. Hehe *sokbijak*

        Eh kmrn jd dtg yang toped d solo?

          mysukmana responded:
          30 Oktober 2015 pukul 9:57 AM

          lah jadi datang lah..kan udah aku posting itu kak :))

    Uchi said:
    29 Oktober 2015 pukul 9:08 PM

    sampe dengan saat ini mimpi naik gunung blm kesampean hingga akhirnya Sinabung erupsi hiiiiksss

      mysukmana responded:
      3 November 2015 pukul 5:58 AM

      naik gunung di coba kak..harus itu dan wajib. paling tidak sekali seumur hidup

        Uchi said:
        3 November 2015 pukul 1:27 PM

        Iya itu jadi salah satu “to do list”…semogaa semogaaa 🙂

    dhico velian said:
    29 Oktober 2015 pukul 12:05 PM

    Sama Film Vertical Limite kerenan mana ya?

      mysukmana responded:
      29 Oktober 2015 pukul 12:23 PM

      Hmm effectny seru ini

    Ceritaeka said:
    29 Oktober 2015 pukul 10:14 AM

    Yah spoileeer 😦
    Aku belom nonton.

      mysukmana responded:
      3 November 2015 pukul 5:57 AM

      nonton dong kak..biar kekinian 🙂

    dianryan said:
    29 Oktober 2015 pukul 9:37 AM

    kata kenalanku ibu2 yang usianya udah 64 tahun tapi masih sering naik gunung pendakian keatas gunung itu memang memiliki kepuasan tersendiri, apalagi bisa menaklukan puncak tertinggi, tapi emang akan nampak ego dan keaslian seseorang pada saat naik gunung tersebut jadi katanya kalo mau kenal dekat seseorang ajak aja ke gunung pasti nanti tahu sifatnya.

      mysukmana responded:
      3 November 2015 pukul 5:55 AM

      usia 64 tahun naik gunung..iya dulu juga sy waktu naik gunung sering ketemu ibu ibu beginian …bawa makanan untuk dijual di atas

    Gara said:
    29 Oktober 2015 pukul 7:56 AM

    Kata orang, kalau mendaki gunung itu sifat asli manusia bakal kelihatan, kayaknya memang betul adanya ya :hehe. Jadi kita mesti belajar sabar dan bersiap menghadapi apa pun karena di atas ketinggian, tak ada yang tak mungkin. Duh saya belum pernah naik gunung, selalu iri melihat cerita teman-teman yang sudah menjejak di puncak lancip tinggi itu :hehe.

      mysukmana responded:
      29 Oktober 2015 pukul 8:58 AM

      Cobalah..biar sifat asliny mas gara keliatan..wahahaa

        Gara said:
        29 Oktober 2015 pukul 10:14 AM

        Sudah sering naik gunung Mas… Gunung Sahari tapinya :haha.

    Nadia Khaerunnisa said:
    29 Oktober 2015 pukul 7:20 AM

    Saya gak pernah siap utk mendaki gunung haha dan menurut saya, aktifitas semacam mendaki gunung ini tidak seharusnya dilakukan utk gengsi-gengsian. Perlu niat yg baik utk menafakuri alam, kekuasaan Tuhan. Karena kalopun mereka selamat sampai puncak, itu jg karena ridho dan kuasa-Nya.

      mysukmana responded:
      29 Oktober 2015 pukul 7:24 AM

      Yub bener mbk..sy dl smpe puncak lawu tahun 2001 an. G ada hp yg buat selfie kyk skg..jd pyur pengen muncak..smpe atas..keren bgt mbk..

    RedCarra said:
    29 Oktober 2015 pukul 2:25 AM

    Film petualangan selalu bikin kita bersemangat ya.
    Udah lama nggak nonton film di bioskop. Hiks.
    *malah curhat*

      mysukmana responded:
      3 November 2015 pukul 5:56 AM

      lah knpa kak..jauh ya dari bioskop?

    Cici Suci Maulina said:
    29 Oktober 2015 pukul 1:57 AM

    bagus ulasannya Mas! dan terimakasih nasehatnya … jadi pengen nonton ini film hehe

      mysukmana responded:
      3 November 2015 pukul 5:55 AM

      coba dah di tonton, pasti kece mbak 🙂

    @danirachmat said:
    28 Oktober 2015 pukul 11:26 PM

    Yang saya pikirin waktu nonton film ini memang ego manusia yang terlalu besar justru jadi bencana buat mereka sendiri..

      mysukmana responded:
      3 November 2015 pukul 5:56 AM

      makanya..untuk sampai puncak kita harus mengalahkan ego pribadi ( nasehat hihi)

Yang Komentar Saya Doakan Banyak Rizkynya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s