Sensasi Naik Kereta Wisata “Sephur Klutuk Jaladhara” (St.Purwosari hingga St.Kota Solo)

Posted on Updated on

sepur-jaladhara_-12

#Travel – “Dimana lagi bisa saya temukan Kereta Api buatan Jerman berjalan di tengah kota, selain di KotaSolo”. Perjalanan di mulai dari pukul 7 Pagi di salah satu Stasiun paling ujung barat kota Solo yaitu St Purwosari. Saya dan rombongan sudah stand by di stasiun tersebut. Sebuah kereta atau lokomotif uap dengan kode C1218 yang menggandeng dua gerbong sudah siap untuk saya naiki menuju St. Kota yang terletak di kawasan Sangkrah Solo.

sepur-jaladhara_-13

sepur-jaladhara_-14

sepur-jaladhara_-2

Lokomotif yang hanya bisa menarik dua buah gerbong dengan bahan bakar kayu jati asli telah dibuat pada 1920. Kapasitas optimal untukkereta tersebut hanya bisa mengangkut 72 orang Saja . Kereta ini menggunakan bahan bakar kayu jati, selain itu lokomotif ini juga membutuhkan air dalam jumlah banyak untuk menghasilkan uap untuk menggerakkan loko . Menurut informasi lokomotif tersebut membutuhkan 4 meter kubik air dan 5 meter kubik kayu untuk menempuh jarak 6-7Km.

sepur-jaladhara_-1

sepur-jaladhara_-16

sepur-jaladhara_-6

sepur-jaladhara_-18

sepur-jaladhara_-17

sepur-jaladhara_-4

Tidak lama kemudian Lokomotif tersebut berjalan berlahan-lahan berangkat dari St. Purwosari, saya disuguhi dengan jajanan pasar dan jamu tradisional asli Solo yang sudah disediakan didalam gerbong kereta tersebut. Sambil menikmati alunan musik tradisional dan keroncong khas kota Solo, saya benar-benar merasakan suasana klasik kota Solo Tempo Dulu didalamnya.

sepur-jaladhara_-15

sepur-jaladhara_-5

sepur-jaladhara_-20

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 kilometer, keretapun berhenti di kawasan Loji Gandrung, yaitu rumah dinas walikota Solo. Rumah ini dulunya merupakan rumah mewah milik seorang pengusaha pertanian asal Belanda, Yohanes Agustinus Dezentye, yang dibangun sekitar 1823 pada jaman Paku Buwono IV.

sepur-jaladhara_-10

sepur-jaladhara_-9
sepur-jaladhara_-7
sepur-jaladhara_-11

Pada saat berhenti di Loji Gandrung, kamipun para penumpang kereta wisata tersebut mengabadikan momen di sekitar kawasan rumah walikota tersebut. Tak lama kemudian lokomotif meneruskan perjalanan menuju St.Kota. di Stasiun inilah lokomotif kembali mengisi bahan bakar air untuk kembali lagi ke St.Purwosari. Bagaimana? Asik kan naik kereta buatan tempoe dulu? Ayo Ke Kota Solo 🙂

Iklan

27 thoughts on “Sensasi Naik Kereta Wisata “Sephur Klutuk Jaladhara” (St.Purwosari hingga St.Kota Solo)

    masslara said:
    3 Januari 2017 pukul 10:35 AM

    Wah, pengen nrasakne numpak aku

      mysukmana responded:
      3 Januari 2017 pukul 11:06 AM

      langsung cuss ning Solo mas

    Ahmad said:
    28 Desember 2016 pukul 9:04 PM

    ngomong-ngomong ini kereta api dgn bahan bakar batu bara ya

      mysukmana responded:
      29 Desember 2016 pukul 10:49 PM

      duh kak ahmad ga baca mesti :(, kayu jati kak

    Evan Naratama said:
    26 Desember 2016 pukul 3:59 PM

    To do list kalo main ke solo nih 👍👍

      mysukmana responded:
      27 Desember 2016 pukul 6:02 AM

      iya kak,kudu kamu agendakan

    luckman aziz said:
    24 Desember 2016 pukul 10:02 PM

    Wah naik kereta antik disuguhi alunan musik khas Solo juga jajanan pasar dan jamu, benar-benar nostalgia jaman dulu. Btw untuk umum tiket naiknya seharga berapa ya pak?

      mysukmana responded:
      24 Desember 2016 pukul 10:46 PM

      booking langsung satu kereta mas, 4 jutaan..dibagi berapa rombongan 🙂

    Gara said:
    24 Desember 2016 pukul 6:10 PM

    Kereta ini dioperasikan umum atau hanya disewakan sih Mas? Sebab sepertinya biaya operasionalnya agak besar untuk satu kali jalan ya, hehe. Saya pernah lihat dari dalam Museum Radya Pustaka ketika kereta ini lewat di depannya. Di sini saya baru tahu itu Sepur Kluthuk, sebab kemarin itu saya cuma lihat gerbongnya yang warna hijau pekat itu. Yep, berasa sekali kembali ke zaman ketika sepur menjadi transportasi utama di Jawa.
    Untuk jalur di pinggir jalan itu, saya pernah juga lewat, tapi naik railbus, haha.

      mysukmana responded:
      24 Desember 2016 pukul 6:37 PM

      iya mas di sewakan, beroperasi kalau ada yang book saja, dan rata-rata biaya operasionalnya 3-4 juta katanya, jadi harus grup dan urunan..
      oh masa lalu..

        Gara said:
        24 Desember 2016 pukul 10:15 PM

        Wah lumayan mahal juga, saya pikir dioperasikan umum, hehe. Tapi saya maklum, sebab lokomotifnya sudah dari tahun 1896 jadi mengoperasikannya tentu mesti sangat hati-hati, ya.

          mysukmana responded:
          24 Desember 2016 pukul 10:45 PM

          iya lumayan, kan juga untuk perawatan..

    shintadaniel said:
    24 Desember 2016 pukul 5:19 PM

    Selalu gagal stiap mau naik KA ini karena harus booking by group yaa….

      mysukmana responded:
      24 Desember 2016 pukul 6:35 PM

      iya bu, booking by grup.ini kemarin saya book sama temen2 blogger

    Ira said:
    24 Desember 2016 pukul 4:41 PM

    wah asyik banget bisa nyobain naek kereta ini..tapi pasti ga bisa tiap saat gitu ya diadain…*apalagi mengingat bahan bakarnya x_x*

      mysukmana responded:
      24 Desember 2016 pukul 6:38 PM

      inggih bu ira, mihil..tapi sensainya kunonya ada

    winnymarlina said:
    24 Desember 2016 pukul 3:59 PM

    asik kali kak naik kereta jadul gitu nan eksotis serasa berada dimasa lalu

      mysukmana responded:
      24 Desember 2016 pukul 6:41 PM

      iya..winny kudu ke Solo dan mencobanya

    anggik said:
    24 Desember 2016 pukul 10:33 AM

    Wah paten nih mas. Kalsik keretanya ya. Belom pernah ke Solo, lain waktu bisa jadi opsi nih ya

      mysukmana responded:
      24 Desember 2016 pukul 10:50 PM

      kudu kesini mas, rugi loh

    Moiismiy said:
    24 Desember 2016 pukul 6:40 AM

    Naik sepur Kluthuk Jaladara itu asyik banget. Aku sudah pernah naik 2 kali, waktu acara Blogger ASEAN sama #FamtripSolo Imlek Nusantara bareng temen – temen pelajar Mexico, Thailand, Jepang. Dirumah masih ada Souvenir Cantik waktu naik Sepur Kluthuk yg jadi kenang2an. Jadi kangen piknik Solo 😀

    Grant said:
    24 Desember 2016 pukul 6:32 AM

    Keren keretanya. Tapi sayang bahan bakarnya kayu jati. Oh ya, pas di Loji Gandrung para wisatawan nggak bisa masuk ke dalamnya? Kayak ke keraton gitu… kan bisa masuk buat liat dalemnya, semacam museum gitu.

      mysukmana responded:
      24 Desember 2016 pukul 9:57 PM

      boleh masuk loji gandrung, cuma kemarin kurang koordinasi kak..

    nbsusanto said:
    24 Desember 2016 pukul 5:42 AM

    itu harus booking rombongan seperti kereta wisata ambarawa atau gimana mas?
    nggak heran sih kalo mahal, lha yang dibakar jati 5 kubik.. 😮😮😮

      mysukmana responded:
      24 Desember 2016 pukul 9:56 PM

      iya mas bro, lumayan mahal, kalau buat lawang pintu udah jadi 3 kali ya heheh

    Fiberti said:
    24 Desember 2016 pukul 5:16 AM

    Waah asyik sekali ya naik kereta jaman dulu. Pasti suasananya tempo doeloe. Coba dress code penumpang2 yang naik juga vintage ya hahaha…….catat ah kalau ke Solo. thanks sharingnya mas

      mysukmana responded:
      24 Desember 2016 pukul 10:51 PM

      pengennya sih gitu, tapi ribet ntar harus ganti pakaian 😀

Yang Komentar Saya Doakan Banyak Rizkynya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s