Mengenal Perkembangan Teknologi Cinema di Bioskop

Posted on Updated on

gaya-hidup-nonton-bioskop-di-platinum-1

#Lifestyle – “Jangan hanya jadikan hiburan hanya untuk dinikmati, namun di balik itu semua ada pengetahuan yang harus kamu ketahui”. Sebenarnya ini tulisan lama, tetetapi saya ingin mengangkatnya kembali karena ini menarik menurut saya. Menonton film di Bioskop merupakan salah satu gaya hidup para kaum urban yang sedang menghabiskan waktu akhir pekannya di Mall sembari berbelanja atau sekedar nongkrong.

gaya-hidup-nonton-bioskop-di-platinum-4

Namun Kali saya mencoba untuk dengan cara yang berbeda menikmati Film sambil melihat sisi dalamnya dari Gedung Bioskop yang terletak di Solo Baru yaitu Platinum CIneplex, Saya ingin mencoba lebih tau mengenai Teknologi Multimedia Digital yang ada di Gedung Bioskop tersebut.

Waktu itu pihak Manager Bioskop menjelaskan mengenai sejarah cinema dunia yang di mulai dari tahun 1892 yang di bawakan oleh Cinema Manager Platinum Cineplex. Dalam sejarah dijelaskan oleh Pak Andre bahwa teknologi cinema yang berkembang sangat panjang, mulai dari film analog, film 3D yang sudah ada di tahun 1969 hingga model layar cinema scope yang di kembangkan oleh 20th Century Fox pada tahun 1953, yaitu teknologi cinema pada layar cekung. selain itu dijelaskan bahwa sering kita melihat didalam bioskop sebelum film di mulai ada logo THX / Dolby Surround baik 5.1 maupun 7.1 .

gaya-hidup-nonton-bioskop-di-platinum-2

Saya malah baru tau kalau THX singkatan dari “Tomlinson Holman’s eXperiment,” dan diciptakan oleh Holman ketika ia bekerja dengan Lucas film Studios untuk menciptakan standar baru reproduksi audio untuk memastikan kualitas dan keseragaman kualitas di semua sistem teater yang berniat memainkan film mereka dan Dolby Digtal Surround adalah teknologi tatasuara terbaru yang dikembangkan oleh Dolby Laboratories sehingga memberikan para penonton pengalaman menonton film dengan sensasi suara yang seperti aslinya real surround system.

Masih ingat waktu jaman SMP dulu, film diputar dengan menggunakan pita dan diantar oleh seseorang dari bioskop satu ke bioskop yang lain. namun berbeda dengan sekarang di era serba digital, Semakin pesatnya teknologi Digital Multimedia saat ini dimana para produsen film-film dunia mulai mengalihkan teknik produksi filmnya ke format Digital dan bioskop sekarang mau tidak mau harus menggunakan teknologi DCP (Digital Cinema Package) .

gaya-hidup-nonton-bioskop-di-platinum-3

 

Pada waktu itu saya juga di beri kesempatan untuk masuk di ruang proyektor, dengan ruangan yang cukup besar mungkin ukuran 10 x 4 meter itu terdapat 2 proyektor cinema dengan pipa seperti knalpot yang menuju ternit atap, ternyata itu pembuangan panas dimana jika beroperasi panas proyektor bisa mencapai 60-70’C. satu proyektor yang terpasang di bioskop tersebut harganya bisa mencapai 1-1,5 milyar. bayangkan jika punya bioskop dengan 5 studio, berapa investasi yang harus ditanam disitu. wow cukup besar. dan itu belum termasuk tool lainnya seperti suara dan sebagainya.

Proyektor yang ada di bioskop mempunyai besaran pixel 4k setara dengan(3.840 x 2.160 Pixel) dan untuk teknologi seperti IMAX yang mungkin pernah dengar bisa mencapai 8K dan mampu menyorotkan gambar di layar dengan bentangan panjang layar hingga 20 Meter. besar sekali bukan. bagi maniak film tentu sangat senang dan merasa marem jika melihat film di bioskop seperti ini.

gaya-hidup-nonton-bioskop-di-platinum_-2

Kembali lagi tentang materi film, jika dulu menggunakan pita sekarang pada teknologi digital film dimasukkan kedalam Hardisk yang disebut dengan DCP dan satu DCP bisa menampung kurang lebih 500GB yang biasanya berisi hanya 1 hingga 2 film. Materi film hanya bisa ditayangkan bila dimasukkan nomor seri khusus ke dalam sistem proteksi isi, pengacakan, dan penandaan khusus yang menempel pada materi film digital itu. Teknologi sistem proteksi isi ini disebut Key Delivery Message (KDM). Dengan KDM, materi film digital hanya bisa dibuka dengan nomor seri khusus pada waktu dan di tempat yang sudah ditentukan.teknologi seperti ini digunakan supaya menghindari pembajakan di Bioskop.

gaya-hidup-nonton-bioskop-di-platinum_-3

Demikian kajian dan pengalaman dibelakang layar bioskop. ini adalah pertama kalinya saya bisa melihat secara langsung didalam ruang pemitaran film di bioskop. Tak lupa saya ucapkan terimakasih Platinum Solo sudah memberi kesempatan mengeksplorasi ke dalam bioskop lebih dalam, Bagaimana? Seru kan?

Iklan

13 thoughts on “Mengenal Perkembangan Teknologi Cinema di Bioskop

    Doni said:
    18 Mei 2017 pukul 9:04 AM

    saya kira alat yang digunakan untuk memutar filmmasih menggunakan mesin pita, ternyata sudah jauh berkembang

      mysukmana responded:
      18 Mei 2017 pukul 9:24 AM

      iya mas, teknologi skg cukup canggih dan keren-keren..jadi liat film sebenarnya udh kayak liat blu ray dengan ukuran gede klo di bioskop

    fasyaulia said:
    5 Mei 2017 pukul 8:29 PM

    Orang yang nganterin film sebelum diputar tuh jadi inget film Janji Joni, mirip2 gitu kan ya mas 😀

      mysukmana responded:
      5 Mei 2017 pukul 8:30 PM

      nah bener..iya kok kamu inget, malah aku lupa itu film..padahal dulu liatnya di bioskop juga kak 🙂

    Jalan-Jalan KeNai said:
    5 Mei 2017 pukul 12:08 PM

    Ternyata ruangan proyektornya lumayan lapang, ya. Saya kirain bakal banyak peralatan di sana 🙂

    putri avionitami said:
    4 Mei 2017 pukul 6:20 PM

    Followback please

    ade_jhr said:
    4 Mei 2017 pukul 4:59 PM

    Panas juga ya suhu proyektornya hehe. Pantes d tmpt ku nga ada bioskopnya mahal ternyata alatnya haha 1,5 m loh ckckck ternyata ya

      mysukmana responded:
      5 Mei 2017 pukul 1:55 PM

      emang jenengan dimana mas ade?

    Mase said:
    4 Mei 2017 pukul 2:43 PM

    Terus aku kapannnn…

      mysukmana responded:
      5 Mei 2017 pukul 1:55 PM

      kapan kapan nek dolan ke Solo mas,,

        Mase said:
        5 Mei 2017 pukul 1:57 PM

        aku ke Solo pas kerja trs gak pernah pas dolan

    Lidha Maul said:
    4 Mei 2017 pukul 2:28 PM

    500 GB untuk 1-2 film aja ya? hmm berarti 1 film itu muatannya banyak juga.
    Saya nggak ngira dulu film itu diantar oleh seseorang dari bioskop satu ke bioskop yang lain. Saya pikir mereka buat sebanyak-banyaknya.
    Terus waktu kecil dapat pengetahuan cara bikin film yang pita itu dan akhirnya kami praktik bikin film-filman sendiri, diputar-putar dan diintip lewat lubang kecil, pada akhirnya ada mainannya dijual.
    Itu salah satu kenangan menyenangkan waktu kecil

      mysukmana responded:
      4 Mei 2017 pukul 2:30 PM

      iya itu dulu waktu masih pake pita, sekarang udah pake hardisk hehehe

Yang Komentar Saya Doakan Banyak Rizkynya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s