Tradisi Nyadran atau Sadranan Sebelum Ramadhan

Posted on Updated on

nyadran-2

#Daily of Mine – “Bermuhasabah adalah dengan mengingat kematian, dan sadranan adalah salah satu cara untuk mengenal hal tersebut”, tidak terasa sebentar lagi sudah mendekati bulan Ramadhan, marhaban ya ramadhan. Ada salah satu tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa khususnya yang bisa di jumpai di pedesaan. Nyadranan atau sadranan adalah salah satu rangkaian budaya yang berupa membersihkan makan para leluhur, dengan tabur bunga yang bisa dilakukan oleh keturunan untuk membersihkan makan dan mendoakannya, secara langsung kegiatan ini akan mengingatkan kita bahwa orang hidup di dunia tidak selamanya.

nyadran-3

nyadran-4

Seperti yang biasa saya lakukan bersama anggota keluarga, Nyadran merupakan salah satu tradisi dalam menyambut bulan Ramadhan. Biasanya kegiatan ini biasa dilakukan saaat Nyadran atau Ruwahan (bulan Syaban dalam kalender Islam). Dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, Dzikir, Tahlil dan Berdoa dan kemudian ditutup dengan makan bersama sebagai ucapan rasa syukur.

Namun sebelumnya kami terlebih dahulu melakukan pembersihan makan leluhur dari rumput liar, ziarah kubur dengan berdoa kepada Allah supaya pendahulu kami yang telah meninggal bisa mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Karena doa anak cucu yang sholeh sholehah kepada orang tua atau pendahulu inshaAllah ma’bul.

nyadran-5

nyadran-6

nyadran-8

nyadran-1

Jadi Bersih kubur yang dikenal dengan nama sadranan atau besik merupakan salah satu bentuk alkuturasi Islam dengan kebudayaan Jawa. Tradisi sadranan merupakan tradisi yang sudah dikenal oleh semua masyarakat terutama masyarakat Jawa, bagaimana di tempat kalian menjelang Ramadhan? Jangan lupa Sadranan dan Padusan kan biasanya ? 🙂

 

Iklan

33 thoughts on “Tradisi Nyadran atau Sadranan Sebelum Ramadhan

    Mydaypack said:
    15 Mei 2017 pukul 9:58 PM

    wah ada tradisi ini yha

      mysukmana responded:
      16 Mei 2017 pukul 9:03 AM

      iya kmrn jg hbs nyadran lg, klo yg di foto itu taun lalu kak

    Sofia Sari Dewi said:
    11 Mei 2017 pukul 9:09 PM

    Ini pulang ke rumah juga mau nyadran.. tapi kecepetan hahahahaha.. tanggal 20an balik lagi deh

    insanwisata (@InsanWisata) said:
    9 Mei 2017 pukul 11:49 AM

    Wah. Tempatku belum nyadran. Beberapa desa, ada penyelenggaraan Nyadran yang unik lho mas. Seperti di Gunung Gentong Gedangsari GK. Di sana unik karena jadi tapak tilas juga. Menarik, jadi pengen kutulis

    BaRTZap said:
    7 Mei 2017 pukul 3:48 PM

    Dengan nama yang berbeda-beda tradisi nyadran ini memang dikenal luas di Indonesia ya. Yang paling saya tahu sih di sekitaran Jawa, kalau di tradisi Minang ada juga, tapi lebih ke arah padusannya, Duh aku lupa namanya apa 😀

    Btw, itu kompak amat mas, sampai pakai seragam gitu 🙂

      mysukmana responded:
      7 Mei 2017 pukul 5:05 PM

      iya mas..keluarga besar kami alhamdulillah kompak, tiap tahun bikin seragam, seragam pengajian sama seragam training buat jalan-jalan kek gini..heheh..udah mo puasa, kira kira mau padusan dimana mas? asal gak padusan di everest aja..adem coy..hahah

        BaRTZap said:
        7 Mei 2017 pukul 5:06 PM

        Kereeen, ada seragam buat jalan-jalan segala. Seru dan kompak. Saluut.

        Kayanya aku padusan di negeri jiran aja deh #ngasihbocoran 😀

          mysukmana responded:
          7 Mei 2017 pukul 5:09 PM

          wah ini..malah ke tanah Melayu..ditunggu ceritanya di blogmu lho mas Bartz

            BaRTZap said:
            7 Mei 2017 pukul 5:13 PM

            Siap mas, asal sabar aja yaa ,, yang kemarin juga belum beres ditulis semua. Aku lambat nih kalau urusan bercerita kembali 🙂

              mysukmana responded:
              7 Mei 2017 pukul 5:14 PM

              berarti antara travel sama nulisnya kurang seimbang mas hahaha..

                BaRTZap said:
                7 Mei 2017 pukul 5:16 PM

                Betul mas. Padahal jalan-jalannya juga gak sering-sering amat. Aku kalau nulis emang agak lama 😀

                Kisah 17 hari di India aja belum sama sekali 😀

                  mysukmana responded:
                  7 Mei 2017 pukul 5:19 PM

                  duh mas mlaku mlaku terus. dadi pengen? udah berkeluarga belum sih? coba saya masih single pasti melalang buana hehe..cumu dulu blog tak se hits sekarang hehe

                    BaRTZap said:
                    7 Mei 2017 pukul 5:21 PM

                    Malah jarang mas, paling setahun 4 kali doang. Sisanya di rumah aja hahaha.

                    Aku? Kalau lagi jalan-jalan ya single! Hahahaha …

                      mysukmana responded:
                      7 Mei 2017 pukul 5:28 PM

                      semoga disegerakan hehe, eh btw dah maghrib..off dl mas bro..:D

    Hendi Setiyanto said:
    6 Mei 2017 pukul 7:30 PM

    jadi ini seragam anggota keluarga/keturunan dari almarhum?

      mysukmana responded:
      7 Mei 2017 pukul 6:40 AM

      Seragam anggota kel. Beserta keturunannya..

        Hendi Setiyanto said:
        7 Mei 2017 pukul 6:53 AM

        keren ya…kompakan gitu, apalagi ini seragam untuk olahraga (kalau ga salah)

          mysukmana responded:
          7 Mei 2017 pukul 7:14 AM

          Ceritanya hbs jln sehat trs mampir k makam trs pulang mkn2 n kultum..iya om hendi. Bj olahraga..

    alrisblog said:
    6 Mei 2017 pukul 2:32 PM

    Tradisi yang baik mengingatkan kita akan kematian.
    Di kampung saya sangat jarang orang bersih kubur memasuki bulan puasa. Kalo mau lebaran ada sih satu dua yang membersihkan kubur.

      mysukmana responded:
      6 Mei 2017 pukul 2:33 PM

      nah itu perlu di lestarikan kak alris..

    rizzaumami said:
    6 Mei 2017 pukul 11:49 AM

    Biasanya di tempat saya, di Jepara, orang-orang rutin ke makam tiap kamis sore mas, tapi tentu tidak seramai kalo menjelang bulan ramadhan. Bener sih jadi kayak rutinitas turun menurun. Cuma sayangnya, kalo udah bulan ramadhan kamis sorenya kadang gak ke makam soalnya sibuk menyiapkan berbuka.

      mysukmana responded:
      6 Mei 2017 pukul 2:53 PM

      iya klo di pantura gitu mas, dulu saya di kendal juga seperti itu..klo disini jg ada tapi tertentu..hehe kan sadranannya sebelum Ramadhan, waktu syaban mas rizza

        rizzaumami said:
        7 Mei 2017 pukul 9:27 AM

        Oh iya iya, kalo di solo memang lebih beragam sih

    Ulfarick said:
    6 Mei 2017 pukul 11:28 AM

    Nyadran itu sama dgn mungah ya mas,klo ditempat aku tiap mau puasa selalu mungah kemakam keluarga yg sudah meninggal dan berdoa disana,kira2 sama gak ya??

      mysukmana responded:
      6 Mei 2017 pukul 11:57 AM

      sebelas dua belas kak..sama kak , ak malah gak tau istilah mungah hehe

        Ulfarick said:
        6 Mei 2017 pukul 12:15 PM

        Ditempat aku mereka bilangnya mungahan,hehehe…

          mysukmana responded:
          6 Mei 2017 pukul 1:16 PM

          hehe..serius baru denger kak ulfa 😀

            Ulfarick said:
            6 Mei 2017 pukul 1:41 PM

            Sama saya juga baru tau istilah nyadran mas 🙂

    maswar said:
    6 Mei 2017 pukul 8:57 AM

    yess aku nyadran besok kamis pas ada waisak di sekitar candi borobudur

      mysukmana responded:
      6 Mei 2017 pukul 9:18 AM

      mantap mas mawar, jangan lupa doakan nenek eyang ya 🙂

Yang Komentar Saya Doakan Banyak Rizkynya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s